Secciones
Referencias
Resumen
Servicios
Descargas
HTML
ePub
PDF
Buscar
Fuente


Koping Individu Berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Paru di Kabupaten Konawe
Individual Coping Associated with Medication Compliance on Pulmonary Tuberculosis Patients in Konawe District
Health Information: Jurnal Penelitian, vol.. 13, no. 2, 2021
Poltekkes Kemenkes Kendari

Original Research

Health Information: Jurnal Penelitian
Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia
ISSN: 2085-0840
ISSN-e: 2622-5905
Periodicity: Bianual
vol. 13, no. 2, 2021

Received: 19 April 2021

Accepted: 21 December 2021

Published: 29 December 2021

Funding

Funding source: Poltekkes Kemenkes Kendari

Contract number: UT.01.01/1/4665/2019

Corresponding author: lena.atoy@gmail.com

Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the works authorship and initial publication in this journal and able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book).

This work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International.

Ringkasan: Masih tingginya kejadian tuberkulosis paru (TB paru) di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kuman mycobacterium tuberkulosis hanya dapat diobati dengan mengikuti pengobatan yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui huhungan koping individu dengan kepatuhan berobat pasien TB paru di kabupaten Konawe. Digunakan metode total sampling dalam penentuan besar sampel, dan pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Sejumlah 60 responden mengikuti penelitian ini. Hasil uji statistik Chi-square dengan nilai p 0.001, terdapat hubungan antara koping individu dengan kepatuhan berobat pasien TB paru.

Kata kunci: Koping individu, Kepatuhan berobat, Kabupaten Konawe, Tuberkulosis paru.

Abstract: The incidence of pulmonary tuberculosis (pulmonary TB) is still high in Southeast Sulawesi Province. Mycobacterium tuberculosis can only be treated by following a long course of treatment. This study aimed to determine the relationship between individual coping with treatment adherence of pulmonary TB patients in Konawe district. Total sampling method was used in determining the sample size, and data collection using observation sheets. A total of 60 respondents participated in this study. The results of the Chi-square statistical test with a p value of 0.001, there was a relationship between individual coping with treatment adherence of pulmonary TB patients.

Keywords: Individual coping, Medication compliance, Distric of Konawe, Pulmonary tuberculosis.

PENDAHULUAN

Penyakit tuberkulosis (TB) pada masyarakat disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberkulosis yang menulari antar manusia melalui cairan tenggorokan, dengan gejala klinisnya adalah nyeri dada dan otot, tidak nafsu makan, batuk lebih dari dua minggu, demam, dan tanpa beraktivitas keringat pada malam hari (Panjaitan, 2013). Kejadian TB paru masih menjadi salah satu penyebab komorbiditas dan mortalitas tertinggi di dunia, 1,6 juta kematian setiap tahun, dan menginfeksi lebih dari 10 juta orang (Houben & Dodd, 2016; World Health Organization, 2013). 5-10% infeksi bakteri mycobacterium tuberkulosis berkembang menjadi TB aktif (Jick et al., 2006). Manajemen mereka dengan LTBI sangat penting untuk menghentikan penularan TB. Kemanjuran pengobatan LTBI tergantung pada kepatuhan terhadap terapi, sementara tingkat penyelesaian sangat bervariasi pada 60-90% (World Health Organization, 2018).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara menyatakan bahwa kasus TB tertinggi terjadi di kota Kendari dengan 262/100.000 penduduk, kabupaten Muna 157/100.000 penduduk, kabupaten Konawe Selatan 127/100.000, Kolaka Utara 105/100.000, kota Bau Bau 91/100.000 (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2021).

Tingginya kejadian TB paru memberikan dampak yang luas pada hampir seluruh lini kehidupan. Terjadinya pengangguran, malnutrisi, pendidikan yang tidak selesai, sanitasi yang buruk, tingkat sosial ekonomi dan pendapatan yang rendah, merokok, dan kerentanan terhadap penyakit lain (Jauhar et al., 2019; Stanhope & Lancaster, 2014).

Program Pemerintah melalui Directly Observed Treatment, Short Course (DOTS) diimplementasikan oleh Puskesmas dan Rumah Sakit sebagai upaya pencapaian keberhasilan pengobatan TB paru. Salah satu layanan DOTS yang berupa penyuluhan tentang TB kepada penderita dan anggota keluarganya melalui discharge planning yang bertujuan agar terjadi pengelolaan diri sendiri (self-management support), dan kolaborasi dengan kelompok masyarakat.

METODE

Desain penelitian menggunakan rancangan explanatory research dengan pengambilan data secara cross-sectional study pada populasi pasien TB paru sejumlah 60 orang yang kesemuanya dipilih sebagai responden, penentuan besar sampel secara total sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi. Data hasil penelitian diuji statistik menggunakan metode uji Chi-square, nilai kemaknaan 95%.

HASIL

Tabel 1
Karakteristik responden, koping individu, dan kepatuhan berobat

Variabel karekteristik responden dibagi ke dalam berbagai kriteria. Responden dengan rentan umur 30-49 tahun merupakan yang terbanyak (85%), berpendidikan tingkat menengah atas (60%), menikah (88,3%), dan tidak memiliki pekerjaan atau bekerja sebagai ibu rumah tangga (38,3%).

Sedangkan variabel koping individu dan kepatuhan berobat berdasarkan kriteria, koping baik (48,3%), koping kurang (51,7%). Patuh berobat (56,7%) dan tidak patuh berobat (43,3%).

https://purl.org/10.36990/hijp.v13i2.277.t001

Tabel 2
Uji statistik chi-square

Uji statistik menggunakan metode uji chi-square dengan menghubungkan koping individu dan kepatuhan berobat. Hasil dari uji statistik ini adalah nilai p 0,000.

https://purl.org/10.36990/hijp.v13i2.277.t002

PEMBAHASAN

Usia, Status Perkawinan, dan Pendidikan

Mayoritas responden berada pada rentang umur 30-49 tahun (85%) (Tabel 1), dan termasuk ke dalam kategori dewasa muda, dan produktif. Kasus TB yang dilaporkan secara Nasional, penderita TB paru di Indonesia berusia 25-44 tahun (Kementerian Kesehatan RI & Sekretariat Jendral, 2016). 53 dari tujuh responden berstatus telah menikah (Tabel 1). Kendati demikian, TB paru umumnya tidak berhubungan dengan status perkawinan. Risiko tertular TB paru dapat terjadi pada orang dewasa yang telah menikah dan belum menikah. 60% responden berpendidikan akhir Menengah Atas, dan selebihnya, berpendidikan Dasar dan Menengah Pertama (Tabel 1).

Kejadian TB paru pada orang dewasa disebabkan oleh paparan infeksi primer sebelumnya, keterbatasan informasi penularan penyakit peningkatan interaksi dan sosialisasi kepada individu yang terinfeksi TB paru, dan konsumsi merokok yang tinggi (Bauer et al., 2013; Jauhar et al., 2018; Panjaitan, 2013).

Koping Individu dan Kepatuhan Berobat

Koping penderita TB paru sangat penting dalam menjalani masa pengobatan yang panjang. Secara statistik, terdapat hubungan antara koping penderita TB paru dengan kepatuhan berobat (Tabel 2). Self efficacy yang merupakan bagian dari koping, merupakan keyakinan individu tentang kemampuan untuk mendapatkan hasil terbaik jika secara tekun menjalani pengobatan TB paru (Bandura, 1997).

Kepatuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor, koping dan kepatuhan berobat responden terbagi ke dalam dua kategori besar (Tabel 1). Hal ini dapat menjawab mengapa masih tingginya kasus TB paru di Sulawesi Tenggara (Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara, 2021).

Kondisi kesehatan fisik dan mental dapat menurunkan motivasi untuk sembuh oleh penderita TB paru (Ayé et al., 2011; de Jong, 2011; Jauhar et al., 2019). Dalam implementasi tatalaksana penanganan TB paru, tenaga kesehatan menggali persepsi pasien TB paru pada kemampuan, kelebihan, dan hambatan dalam melaksanakan perilaku sehat, memberikan penguatan positif terhadap komitmen rasa percaya akan dirinya, menyediakan lingkungan yang mendukung, memberikan kesempatan untuk mempraktekkan perilaku kesehatan (Lee et al., 2014).

Konseling manajemen diri untuk meningkatkan koping merupakan komponen isyarat dalam mengubah persepsi kepercayaan diri individu tentang kemampuannya untuk berperilaku sehat dan memastikan kepatuhan pengobatan. Penderita TB paru membutuhkan pendampingan oleh keluarga selama pengobatan TB.

Keluarga merupakan faktor pendukung dalam pengelolaan kondisi psikologis penderita TB paru, sehingga dapat meningkatkan mekanisme koping, dan meminimalkan stres atau depresi selama perawatan. Lingkungan yang mendukung juga memungkinkan pasien TB paru untuk mematuhi dan berhasil menyelesaikan pengobatan TB paru (Barker & Chang, 2013; McDaniel et al., 2014).

KESIMPULAN DAN SARAN

Terdapat hubungan koping responden TB paru dengan kepatuhan untuk berobat. Perlu pengembangan intervensi nonfarmakologi sesuai kebutuhan penderita TB paru.

Kekurangan Penelitian

Metode penelitian hanya mengeksplorasi mekanisme koping tanpa menjabarkan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi koping tersebut.

Mengakui

Penelitian ini didanai oleh Poltekkes Kemenkes Kendari.

DAFTAR PUSTAKA

Ayé, R., Wyss, K., Abdualimova, H., & Saidaliev, S. (2011). Factors determining household expenditure for tuberculosis and coping strategies in Tajikistan: Coping with TB in Tajikistan. Tropical Medicine & International Health, 16(3), 307–313. https://doi.org/10.1111/j.1365-3156.2010.02710.x

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara. (2021). Jumlah Kasus Penyakit Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Penyakit di Sulawesi Tenggara, 2020. In Bps prov. Sulawesi tenggara. https://sultra.bps.go.id/statictable/2021/04/27/3075/jumlah-kasus-penyakit-menurut-kabupaten-kota-dan-jenis-penyakit-di-sulawesi-tenggara-2020.html

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. WH Freeman/Times Books/Henry Hold & Co. https://awspntest.apa.org/record/1997-08589-000

Barker, P., & Chang, J. (2013). Basic Family Therapy. John Wiley & Sons.

Bauer, M., Leavens, A., & Schwartzman, K. (2013). A systematic review and meta-analysis of the impact of tuberculosis on health-related quality of life. Quality of Life Research, 22(8), 2213–2235. https://doi.org/10.1007/s11136-012-0329-x

de Jong, K. (2011). Psychosocial and mental health interventions in areas of mass violence (2nd ed.). Rozenberg Publishing Services. https://www.msf.org/sites/msf.org/files/msf_mentalhealthguidelines.pdf

Houben, R. M. G. J., & Dodd, P. J. (2016). The global burden of latent tuberculosis infection: A re-estimation using mathematical modelling. PLOS Medicine, 13(10), e1002152. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1002152

Jauhar, M., Nursasi, A. Y., & Wiarsih, W. (2018). Self-management counseling and physical health status among patients with pulmonary tb in bogor, indonesia. Nurse Media Journal of Nursing, 8(1), 35. https://doi.org/10.14710/nmjn.v8i1.16812

Jauhar, M., Nursasi, A. Y., & Wiarsih, W. (2019). Evaluation of impact self-management counseling on health-seeking behavior’s self-efficacy pulmonary tuberculosis outpatients. Enfermería Clínica, 29, 482–487. https://doi.org/10.1016/j.enfcli.2019.04.072

Jick, S. S., Lieberman, E. S., Rahman, M. U., & Choi, H. K. (2006). Glucocorticoid use, other associated factors, and the risk of tuberculosis. Arthritis & Rheumatism, 55(1), 19–26. https://doi.org/10.1002/art.21705

Kementerian Kesehatan RI & Sekretariat Jendral. (2016). Profil Kesehatan Indonesia 2015. Kementerian Kesehatan RI. https://pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/Profil-Kesehatan-Indonesia-Tahun-2015.pdf

Lee, K.-C., Chao, Y.-F. C., Wang, Y.-M., & Lin, P.-C. (2014). A nurse-family partnership intervention to increase the self-efficacy of family caregivers and reduce catheter-associated urinary tract infection in catheterized patients: A nurse-family partnership intervention. International Journal of Nursing Practice, 21(6), 771-779. https://doi.org/10.1111/ijn.12319

McDaniel, J., Giovannelli, M., & Happ, M. B. (2014). Exemplars of complex assessment and care for hospitalized older adults: Genital herpes infection. Geriatric Nursing, 35(3), 233–235. https://doi.org/10.1016/j.gerinurse.2014.04.005

Panjaitan, F. (2013). Karakteristik penderita tuberkulosis paru dewasa rawat inap di rumah sakit umum dr. Soedarso pontianak periode september—November 2010. Jurnal Mahasiswa PSPD FK Universitas Tanjungpura, 1(1). https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/article/view/1758

Stanhope, M., & Lancaster, J. (2014). Foundations of nursing in the community - e-book: Community-oriented practice. Elsevier Health Sciences.

World Health Organization. (2013). Global tuberculosis report 2013 (p. https://apps.who.int/iris/handle/10665/91355). World Health Organization.

World Health Organization. (2018). Latent TB Infection: Updated and consolidated guidelines for programmatic management. World Health Organization. https://www.who.int/publications-detail-redirect/9789241550239

Catatan kaki

Catatan Penerbit Poltekkes Kemenkes Kendari menyatakan tetap netral sehubungan dengan klaim dari perspektif atau buah pikiran yang diterbitkan dan dari afiliasi institusional manapun.
Pernyataan Konflik Kepentingan Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.
Kontribusi Penulis Tidak dideklarasikan.
Berbagi Data Tidak ada data yang dibagikan.

Author notes

lena.atoy@gmail.com



Buscar:
Ir a la Página
IR
Non-profit publishing model to preserve the academic and open nature of scientific communication
Scientific article viewer generated from XML JATS4R