Servicios
Servicios
Buscar
Idiomas
P. Completa
Penerapan Reminiscence Therapy dalam Menurunkan Tingkat Depresi Lansia Kabupaten Lombok Barat
Wahyu Cahyono; Rahmani Rahmani; Sukardin Sukardin
Wahyu Cahyono; Rahmani Rahmani; Sukardin Sukardin
Penerapan Reminiscence Therapy dalam Menurunkan Tingkat Depresi Lansia Kabupaten Lombok Barat
Application of Reminiscence Therapy Reducing Elderly Depression Levels in the West Lombok Regency
Health Information: Jurnal Penelitian, vol. 13, no. 1, 2021
Poltekkes Kemenkes Kendari
resúmenes
secciones
referencias
imágenes

Ringkasan: Depresi merupakan gangguan mental yang sering ditemukan pada lansia dan mempunyai dampak buruk apabila tidak tertangani dengan baik. Sehingga perlu ada model terapi untuk menurunkan depresi pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuai pengaruh reminiscence therapy terhadap penurunan depresi pada lansia. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian quasy-experiment (one-group pretest posttest design). Subyek penelitian adalah lansia yang mengalami depresi di wilayah kerja Puskesmas Parempuan Kabupaten Lombok Barat, sebanyak 59 lansia dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner skala depresi geriatrik (GDS) digunakan untuk mengumpulkan data terkait depresi lansia. Reminiscence therapy dilakukan selama tiga sesi dengan durasi waktu kurang lebih 25-30 menit setiap sesi. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon menggunakan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan skor GDS pada lansia sebelum dan sesudah diberikan reminiscence therapy dan hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p (p-value) 0,000. Terdapat pengaruh reminiscence therapy dalam menurunkan depresi pada lansia. Reminiscence therapy dapat dijadikan sebagai terapi alternatif untuk menurunkan tingkat depresi pada lansia.

Kata kunci: Depresi,Lansia,Terapi kenangan.

Abstract: Depression is a mental disorder that is often found in the elderly and has a bad impact if it is not handled properly. So there needs to be a model of therapy to reduce depression in the elderly. This study aims to determine the effect of reminiscence therapy on reducing depression in the elderly. The research conducted was a quasi-experimental study (one-group pretest post-test design). The research subjects were elderly people who experienced depression in the working area of ??Puskesmas Parempuan, West Lombok Regency, as many as 59 elderly people were selected using purposive sampling technique. The geriatric depression scale questionnaire (GDS) was used to collect data related to depression in the elderly. Reminiscence therapy is carried out for three sessions with a duration of approximately 25-30 minutes per session. The data were analyzed by using the Wilcoxon test using SPSS version 21. The results showed that there was a change in the GDS score in the elderly before and after being given reminiscence therapy and the Wilcoxon test results showed a p-value of 0,000. There is an effect of reminiscence therapy in reducing depression in the elderly. Reminiscence therapy can be used as an alternative therapy to reduce levels of depression in the elderly.

Keywords: Elderly, Depression, Reminiscence therapy.

Carátula del artículo

Artikel

Penerapan Reminiscence Therapy dalam Menurunkan Tingkat Depresi Lansia Kabupaten Lombok Barat

Application of Reminiscence Therapy Reducing Elderly Depression Levels in the West Lombok Regency

Wahyu Cahyono
Departemen Keperawatan Keluarga dan Komunitas, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mataram, Indonesia
Rahmani Rahmani
Departemen Keperawatan Keluarga dan Komunitas, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mataram, Indonesia
Sukardin Sukardin
Departemen Keperawatan Keluarga dan Komunitas, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mataram, Indonesia
Health Information: Jurnal Penelitian
Poltekkes Kemenkes Kendari, Indonesia
ISSN: 2085-0840
ISSN-e: 2622-5905
Periodicity: Bianual
vol. 13, no. 1, 2021

Received: 09 January 2021

Accepted: 20 May 2021


Corresponding author: kardinsakti@yahoo.co.id

PENDAHULUAN

Dalam indeks global masyarakat lanjut usia, Indonesia menduduki urutan ke 71 dari 96 negara. Pertumbuhan penduduk lanjut usia di Indonesia dari tahun ke tahun jumlahnya cenderung bertambah, yakni mencapai 20,24 juta jiwa, setara dengan 8,3% dari seluruh penduduk Indonesia pada tahun 2014 (Data 2014). Nusa Tenggara Barat adalah provinsi dengan jumlah usia harapan hidup kedelapan tertinggi di Indonesia (Kemenkes, 2014).

Jumlah usia harapan hidup yaitu untuk usia 60-64 tahun adalah 129.588, untuk usia 65 ke atas mencapai 228.756 (PUSDATIN, 2015). World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2009 jumlah lanjut usia sebanyak 7,49% dari total populasi, dan pada tahun 2011 menjadi 7,69% kemudian pada tahun 2013 didapatkan proporsi lanjut usia sebesar 8,1% (WHO, 2015).

Bersamaan dengan meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) menjadi fenomena tersendiri untuk lanjut usia. Bursa kerja terus menjadi maju yang menimbulkan banyak orang menghabiskan waktunya buat bekerja sehingga para lanjut usia kurang memperoleh perawatan dirumah, sebaliknya para lanjut usia dikenal sebagai orang yang membutuhkan atensi dalam perihal tata cara berkehidupan, pemeliharaan kesehatan fisik dan mental.

Lansia merupakan kelompok risiko tinggi yang mengalami gangguan kesehatan yang ditandai dengan penurunan fungsi tubuh pada perubahan fisik, biologis, psikologis, dan sosial yang disebabkan oleh proses penuaan. Proses penuaan inilah yang seringkali menciptakan kecemasan pada lansia (Akhmad et al., 2019).

Lansia banyak mengalami perubahan dalam hidup, dan sering terjadi ketidak siapan dalam menghadapi perubahan tersebut. Hal ini dapat menimbulkan ketegangan jiwa yang akan berdampak pada kemampuan fungsi adaptif lansia. Perubahan yang paling sering terjadi pada lanjut usia seperti perasaan tidak berguna, mudah sedih dan depresi (Azizah, 2011).

Depresi merupakan gangguan psikososial terbesar ketiga yang diperkirakan terjadi pada 5% penduduk di dunia (WHO, 2017). Depresi berhubungan dengan masalah kesehatan terbesar di dunia. Banyaknya tekanan kehidupan, stres interpersonal dan penolakan sosial, menjadi faktor risiko terbesar mengalami depresi (Hadi et al., 2017; Rosyanti et al., 2021).

Kecemasan dan depresi adalah gangguan Kesehatan yang sering dialami oleh lansia. Depresi dapat disebabkan oleh berbagai macam, pada lansia sendiri faktor risiko yang sering menyebabkn depresi adalah, tingkat Pendidikan, usia, jenis kelamin, status pekerjaan serta dukungan sosial (Rosyanti et al., 2021).

Reminiscence therapy (terapi kenangan) adalah terapi alternatif yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan tingkat depresi pada lansia. Terapi ini adalah salah satu terapi bentuk terapi psikologis yang digunakan sebagai pengobatan untuk lanjut usia yang bertujuan agar terjadi peningkatan status kesehatan kejiwaan mereka dengan mengenang dan mempertimbangkan memori masa lalu yang menyenangkan. (Chen, Li, & Li, 2012; Chiang et al., 2010; Hsieh & Wang, 2003; Lestari & Elmira, 2016; Manurung, 2016; Wang, 2005; Zhou et al., 2012).

Kenangan merupakan cara mengenang kembali peristiwa menyenangkan dimasa lalu. Dalam aktivitas pengobatan ini, trapis memudahkan lansia untuk mengumpulkan kembali memori- memorinya dari pengalaman dengan diri sendiri dan keluarga, dan kemudian dilakukan sharing dengan terapis (Azizah, 2011; Videbeck, 2008).

METODE
Jenis Penelitian

Penelitian dengan model kuasi eksperimen dengan konsep pra-pascates pada satu bagian responden.

Lokasi, Waktu, Populasi dan Sampel

Puskesmas Parempuan Kabupaten Lombok Barat digunakan sebagai tempat penelitian pada bulan September-Oktober tahun 2020.

Populasi penelitian ini adalah semua lansia yang mengalami depresi di wilayah kerja Puskesmas Parempuan Kabupaten Lombok Barat. Jumlah sampel ditentukan berdasarkan prinsip total sampling sesuai kriteria inklusi:

  1. 1. Lansia yang berumur lebih dari 60 tahun;
  2. 2. Lansia tidak mengalami gangguan komunikasi verbal dan gangguan pendengaran;
  3. 3. Dapat mengikuti semua sesi penelitian;
  4. 4. Lansia yang mengalami depresi;
  5. 5. Lansia yang tidak didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan berat (psikosis & neurosis), gangguan sosial dan tidak memerlukan perawatan intensif.

Pengumpulan, Pengolahan dan Analisis Data
Klasifikasi depresi menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS)

Kuesioner GDS yang berisikan 15 pertanyaan yang terdiri dari jenis pertanyaan positif dan negatif yang diberikan kepada responden sebelum dan setelah terapi.

Pertanyaan negatif (pertanyaan nomor 1,5,7,11, dan 13) diberi skor 1 untuk jawaban ‘tidak’ dan skor 0 untuk jawaban ‘ya’. pada jawaban “Tidak”. Sedangkan pertanyaan positif (pertanyaan nomor 2,3,4,6,8,9,10,12,14, dan 15) diberi skor 1 pada jawaban “ya” dan skor 0 pada jawaban “tidak”. Hasil yang didapatkan akan dikategorikan: normal apabila skor 0-4; depresi ringan apabila skor 5-8; depresi sedang dengan skor 9-11; dan skor 12-15 adalah depresi berat.

Terdapat 73 lansia yang mengalami depresi. Sebanyak 14 lansia tidak mengikuti semua proses terapi. Sehingga jumlah responden pada penelitian ini adalah 59 lansia. Adapun alasan umum lansia tidak mengikuti penelitian adalah karena tidak dapat mematuhi jadwal terapi dan masalah kesehatan pribadi.

Terapi kenangan

Terapi kenangan yang diberikan dengan cara mengajak responden bercerita dan mendiskusikan masa lalunya, sembari mengarahkan sehingga cerita lansia berfokus pada masa lalu yang menyenangkan. Terapi kenangan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu kenangan masa anak-anak yang menyenangkan, kenangan masa remaja yang menyenagkan, dan kenangan masa dewasa yang menyenagkan. Dan setiap sesinya dilakukan dalam waktu yang berbeda sesuai kesepakatan dengan responden.

Analisis statistik

Uji normalitas menggunakan metode uji Shapiro wilk telah dilakukan sebelum analisis bivariat dan hasilnya adalah sebaran data tidak berdistribusi normal. Sehingga uji statistik non-parametrik menggunakan metode uji Wilcoxon Signed-Rank test menggunakan aplikasi computer SPSS versi 21.

HASIL

Tabel 1
Karakteristik responden

Mayoritas lansia berjenis kelamin perempuan sebanyak 32 orang (54,24%). Sebagian besar lansia berumur 60-74 tahun (61,01%). Pendidikan lansia paling banyak berpendidikan SD (30,50%), dan paling sedikit adalah perguruan tinggi sebanyak 5.08%. Hampir semua lansia telah menikah sebanyak 39 orang (66,10%), dan ada 2 lansia (3,39) lansia yang tidak menikah.

Tabel 2
Klasifikasi depresi lansia sebelum dan setelah diberikan terapi kenangan

Sebelum diberikan terapi kenangan, sebagian besar lansia mengalami depresi ringan sebanyak 34 orang (57,62%), hanya lima (8,48%) lansia yang mengalami depresi berat. Setelah diberikan terapi kenangan, setengah lansia (49,15%) tidak lagi memiliki depresi (normal), depresi ringan 18 orang (30,51%), depresi sedang 10 orang (16,95%), dan depresi berat sebanyak 2 orang (3,38%).

Tabel 3
Analisis statistik uji Wilcoxon signed rank test

Hasil uji statistik menggunakan metode uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan bahwa terdapat perubahan rerata skor kuosioner GDS. Sebelum diberikan terapi kenangan nilai rata-rata adalah 5.25, dan setelah pemberian terapi reminiscence nilai rata-rata berubah menjadi 3.03. Hasil uji statistik menunjukkan nilai P 0,000.

PEMBAHASAN
Depresi Lansia sebelum Diberikan Terapi Kenangan

Pada penelitian ini jumlah wanita lebih banyak dibanding pria (54,24%) (Tabel 1). Wanita memiliki kecenderungan hampir dua kali lipat lebih besar daripada pria untuk mengalami depresi, disebabkan adanya perbedaan hormonal dan biologis yang terkait dengan gender kemungkinan berpengaruh (Hadi et al., 2017; Rosyanti et al., 2021).

Tingkat depresi lansia sebelum diberikan terapi kenangan sebagian besar lansia mengalami depresi ringan sebanyak 34 orang (57,62%), depresi sedang 20 orang (33,90%), dan hanya 5 (8,48%) lansia yang mengalami depresi berat (Tabel 2).

Depresi adalah gangguan psikiatrik yang sering di alami oleh lanjut usia (Ghaemi, 2003). Depresi sering terjadi terjadi pada lansia yang mengalami gangguan-gangguan neurologis yang memiliki tanda-tanda yang mendekati gejala depresi. Terkadang pada sebagian kasus bisa terjadi gejala-gejala yang saling menutupi (overlap), sehingga depresi bisa didiagnosa setelah diberikan obat antidepresan (Kaplan & Sadock, 2007).

Depresi pada lanjut usia dipengaruhi oleh faktor risiko berupa penurunan fungsi tubuh untuk beraktivitas, masalah social dan keluarga. Kejadian depresi kerapkali berhubungan dengan dukungan sosial yang ada yang dipakai lanjut usia dalam menghadapi sumber stres (Azizah, 2011).

Berdasarkan teori bahwa dukungan sosial dapat membantu menurunkan kecenderungan timbulnya peristiwa yang bisa menyebabkan stres, hal ini karena interaksi dengan orang lain yang akan mengubah persepsi lansia pada kejadian yang telah dialaminya sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya lanjutan stres dan depresi (Herawati & Deharnita, 2019; Siddik & Azamti, 2019; Sugeng, 2016; Sutinah & Maulani, 2017).

Depresi Lansia setelah Diberikan Terapi Kenangan

Kenangan merupakan proses mengingat kembali kejadian masa lalu, dimana ingatan tersebut dibentuk sebagai suatu fokus utama baik dalam teori maupun aplikasi pada psikogerontologi (Woods, 2009). Terapi kenangan ialah terapi yang diberikan kepada lansia melalui proses motivasi dan diskusi tentang pengalaman masa lalu yang dialami dan upaya penyelesaian tentang masalah yang dilakukan pada saat itu (Meiner & Luekenotte, 2006).

Setelah diberikan terapi, sebagian besar lansia mengalami perubahan tingkat depresi. Lansia yang berada pada kategori normal sebanyak 29 orang (49.15%), kemudian yang mengalami depresi ringan sebanyak 18 orang (30,51%), lansia yang mengalami depresi sedang sebanyak 10 orang (16,95%), dan terdapat 2 lansia (3,38%) yang mengalami depresi berat (Tabel 2). Setengah dari reponden berada dalam kategori normal. Hal ini dikarenakan pemberian terapi yang dimana lansia diminta mengingat dan menceritakan masa anak-anak, remaja sampai dewasa yang menyenangkan sehingga lansia dapat mengavaluasi dan analisa terhadap sejarah kehidupannya dan mencapai integritas (Stinson, 2009).

Sedangkan ada beberapa lansia setelah diberikan terapi reminiscence tidak mengalami perubahan depresi. Pada saat peneliti kembali memberikan pascates, lansia lebih banyak menjawab “iya” untuk pertanyaan negatif dibagian nomor dua, beberapa lansia merasa masih banyak kehilangan minat saat lansia bertambah usia dan adanya faktor lain yang menyebabkan tidak terjadinya perubahan atau menurunanya depresi lansia seperti lansia sering mengalami periode kehilangan orang-orang yang dikasihinya (Woods, 2009).

Selain itu, ada beberapa lansia yang cenderung diam dan kurang inisiatif untuk melakukan interaksi dan sulit mengingat masa lalu yang menyenangkan.

Pengaruh Terapi Kenangan terhadap Penurunan Tingkat Depresi pada Lansia

Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan tingkat depresi lansia sebelum dan sesudah diberikan terapi kenangan (Tabel 3). Terapi kenangan dapat membantu lansia untuk menurunkan tingkat depresi yang dialaminya (Hsieh & Wang, 2003; Stinson, 2009).

Terapi kenangan juga dapat memberikan rasa nyaman dan tenang, meningkatkan interaksi sosial lansia dengan lansia yang lain atau lawan bicaranya (Huang et al., 2015), dan dapat meningkatkan harga diri dan membantu lansia mencapai kesadaran diri, memahami diri, beradaptasi terhadap stres, meningkatkan kepuasan hidup dan melihat dirinya dalam konteks sejarah dan budaya (Chen et al., 2012; Duru Aşiret & Kapucu, 2016; Lök, Bademli, & Selçuk‐Tosun, 2019).

KESIMPULAN DAN SARAN

Terapi kenangan dapat membantu menurunkan depresi lansia. Terdapat perbedaan yang selisih penurunan tingkat depresi lansia sebelum dan sesudah diberikan terapi. Terapi ini bisa menjadi terapi alternatif dalam membantu lansia yang mengalami depresi.

Kekurangan Penelitian

Variabel perancu seperti status kongnitif lansia (penyakit demensia) belum diakomodasi dalam penelitian ini, sehingga memungkinkan untuk memengaruhi terapi kenangan.

Supplementary material
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, A., Sahmad, S., Hadi, I., & Rosyanti, L. (2019). Mild Cognitive Impairment (MCI) pada Aspek Kognitif dan Tingkat Kemandirian Lansia dengan Mini-Mental State Examination (MMSE). Health Information : Jurnal Penelitian, 11(1), 48–58. https://doi.org/10.36990/hijp.v11i1.105
Azizah, L. M. (2011). Keperawatan jiwa aplikasi praktik klinik. Yogyakarta: Graha Ilmu, 8.
Chen, T.-j., Li, H.-j., & Li, J. (2012). The effects of reminiscence therapy on depressive symptoms of Chinese elderly: study protocol of a randomized controlled trial. BMC psychiatry, 12(1), 1-6.
Chiang, K. J., Chu, H., Chang, H. J., Chung, M. H., Chen, C. H., Chiou, H. Y., & Chou, K. R. (2010). The effects of reminiscence therapy on psychological well‐being, depression, and loneliness among the institutionalized aged. International Journal of Geriatric Psychiatry: A journal of the psychiatry of late life and allied sciences, 25(4), 380-388.
Data , H. A. I. (2014). Global Age Watch Index 2014: Executive summary London; Help Age Internasional London.
Duru Aşiret, G., & Kapucu, S. (2016). The effect of reminiscence therapy on cognition, depression, and activities of daily living for patients with Alzheimer disease. Journal of geriatric psychiatry and neurology, 29(1), 31-37.
Ghaemi, S. N. (2003). Mood Disorder. A Practical Guide. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins
Hadi, I., Wijayanti, F., Usman, R. D., & Rosyanti, L. (2017). Gangguan Depresi Mayor: Mini Review. Health Information: Jurnal Penelitian, 9(1), 34-49.
Herawati, N., & Deharnita, D. (2019). Hubungan karakteristik dengan kejadian depresi pada lansia. Jurnal Keperawatan Jiwa, 7(2), 183-190.
Hsieh, H.-F., & Wang, J.-J. (2003). Effect of reminiscence therapy on depression in older adults: a systematic review. International journal of nursing studies, 40(4), 335-345.
Huang, H.-C., Chen, Y.-T., Chen, P.-Y., Hu, S. H.-L., Liu, F., Kuo, Y.-L., & Chiu, H.-Y. (2015). Reminiscence therapy improves cognitive functions and reduces depressive symptoms in elderly people with dementia: a meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of the American Medical Directors Association, 16(12), 1087-1094.
Kaplan, & Sadock. (2007). Sinopsis Psikiatri: Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis (1 ed.). Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Kemenkes, R. I. (2014). Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI Situasi dan Analisis Lanjut Usia.
Lestari, M. M., & Elmira, S. N. (2016). Kajian Reminiscence Gurop Therapy Pada Depresi Lansia Wanita Yang Tinggal Di Panti Werdha. Jurnal Ilmiah Psikologi MANASA, 5, 42-56.
Lök, N., Bademli, K., & Selçuk‐Tosun, A. (2019). The effect of reminiscence therapy on cognitive functions, depression, and quality of life in Alzheimer patients: Randomized controlled trial. International Journal of Geriatric Psychiatry, 34(1), 47-53.
Manurung, N. (2016). Terapi Reminiscence Solusi Pendekatan Sebagai Upaya Tindakan Keperawatan Dalam Menurunkan Kecemasan, Stress dan Depresi. Jakarta: Trans Info Media.
Meiner, S. E., & Luekenotte, A. G. (2006). Gerontology Nursing (3 ed.). Philadelphia: Mosby Elsevier.
Rosyanti, L., Hadi, I., & Wijayati, F. (2021). Memahami Gangguan Depresi Mayor. Penerbit Poltekkes Kemenkes Kendari
PUSDATIN. (2015). Data Lanjut Usia NTB.
Siddik, S. M., & Azamti, B. N. A. (2019). Application of Shannon Weaver's Communication Model in Reducing Anxiety in the Elderly in the Parempuan Public Health Center Working Area, West Lombok District. Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia (JIKI), 2(2), 1-15.
Stinson, C. K. (2009). Structured group reminiscence: an intervention for older adults. The Journal of Continuing Education in Nursing, 40, 521-528.
Sugeng, I. L. (2016). Kejadian Depresi pada Lansia di Posyandu Lansia RW I Pagesangan Surabaya. Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery), 3(1), 037-041.
Sutinah, S., & Maulani, M. (2017). Hubungan pendidikan, jenis kelamin dan status perkawinan dengan depresi pada lansia. Jurnal Endurance: Kajian Ilmiah Problema Kesehatan, 2(2), 209-216.
Rosyanti, L., Usman, R. D., Hadi, I., & Syahrianti, S. (2017). Kajian Teoritis Hubungan antara Depresi dengan Sistem Neuroimun. Health Information: Jurnal Penelitian, 9(2), 78-97.
Videbeck, K. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Wang, J. J. (2005). The effects of reminiscence on depressive symptoms andmood status of older institutionalized adults in Taiwan. Int J GeriatrPsychiatry, 20, 57-62.
WHO. (2015). Life expectancy.
WHO. (2017). Depression and other common mental disorders. Geneva: WHO.
Woods, J. T. (2009). Komunikasi Interpersonal Interaksi Keseharian. Jakarta: Salemba Humanika.
Zhou, W., He, G., Gao, J., Yuan, Q., Feng, H., & Zhang, C. K. (2012). The effects of group reminiscence therapy on depression, self-esteem, and affect balance of Chinese community-dwelling elderly. Archives of gerontology and geriatrics, 54(3), e440-e447.
Notes
Catatan kaki
Catatan Penerbit Poltekkes Kemenkes Kendari menyatakan tetap netral sehubungan dengan klaim dari perspektif yang diterbitkan dan dari afiliasi institusional manapun.
Pernyataan Konflik Kepentingan Para penulis menyatakan tidak terdapat konflik kepentingan.
Kontribusi Penulis Wahyu Cahyono
  1. Conceptualization, Data curation, Formal analysis, Investigation, Methodology, Project administration, Resources, Supervision, Validation, Visualization, Writing orginal draft, Writing-review & editing

Rahmani

  1. Formal analysis, Investigation, Project administration, Resources, Validation, Visualization

Sukardin

  1. Conceptualization Formal analysis, Investigation, Methodology, Resources, Supervision, Writing orginal draft, Writing-review & editing

Berbagi Data Tidak ada data yang dibagikan.
Author notes

kardinsakti@yahoo.co.id

Tabel 1
Karakteristik responden

Mayoritas lansia berjenis kelamin perempuan sebanyak 32 orang (54,24%). Sebagian besar lansia berumur 60-74 tahun (61,01%). Pendidikan lansia paling banyak berpendidikan SD (30,50%), dan paling sedikit adalah perguruan tinggi sebanyak 5.08%. Hampir semua lansia telah menikah sebanyak 39 orang (66,10%), dan ada 2 lansia (3,39) lansia yang tidak menikah.

Tabel 2
Klasifikasi depresi lansia sebelum dan setelah diberikan terapi kenangan

Sebelum diberikan terapi kenangan, sebagian besar lansia mengalami depresi ringan sebanyak 34 orang (57,62%), hanya lima (8,48%) lansia yang mengalami depresi berat. Setelah diberikan terapi kenangan, setengah lansia (49,15%) tidak lagi memiliki depresi (normal), depresi ringan 18 orang (30,51%), depresi sedang 10 orang (16,95%), dan depresi berat sebanyak 2 orang (3,38%).

Tabel 3
Analisis statistik uji Wilcoxon signed rank test

Hasil uji statistik menggunakan metode uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan bahwa terdapat perubahan rerata skor kuosioner GDS. Sebelum diberikan terapi kenangan nilai rata-rata adalah 5.25, dan setelah pemberian terapi reminiscence nilai rata-rata berubah menjadi 3.03. Hasil uji statistik menunjukkan nilai P 0,000.

Buscar:
Contexto
Descargar
Todas
Imágenes
Non-profit publishing model to preserve the academic and open nature of scientific communication
Scientific article viewer generated from XML JATS4R